Catatan
panjang tentang kehidupan mungkin akan semakin membuatmu bijaksana dan sadar
bahwa hidup ini bukan play station yang bisa diulang-ulang. Kamu tau, ada
jutaan orang sedang sibuk dengan jari mereka, bersama tanda tanya. “Apa yang
mesti aku lakukan? Untuk apa aku hidup? Bagaimana harus bersikap?” Dan kamu
tanpa sadar sudah melakukannya dengan tersirat dengan menulis. Tulisanmu adalah
dirimu, renunganmu.
Kamu akan
terus diseret bayangan masa lalu. Ia membekas seperti luka pedang yang pernah
menyayat wajahmu. Tidak sadar? Masa lalu telah merusak banyak hal yang akan
jadi masa depan. Melupakan banyak hal yang seharusnya tak patut dilupakan. Dan
mengingat hal-hal yang seharusnya tak patut diingat. Itu kesalahanmu sendiri!
Siapa yang
kini jadi sandaranmu ketika kenyataan telah membekali luka? teman ngopi? Teman
remi? Diri sendiri? Bahkan untuk menyangga dirimu dari luka saja kamu tak bisa.
“Allaaaaaaah, anta taf’alu ma si’ta. Wa ana ‘indaka li tho’atik bi hubbii
ilaika, bi khoufi ilaika. Wa fi kulli haal, anta taf’alu bi qudrotikal khoir,
fi khoir, ala khoir, min khoir, ila khoir. Bi luthfika, bi rohmatika, ana a’ti
nafsi ilaika, Ya Allaaaaaaaah” ((Hizbul Musthofa))
Siapa lagi?
Maka, andaikan ada “sejumput” saja Tuhan dalam dirimu ketika masa-masa itu akan
bergerak menginjak-injak masa depanmu. Kamu pasti berlari, menghindar. Tuhan
tak akan membiarkanmu tergerus, jika ada sedikit saja cinta yang tersisa
untuk-Nya.
Tapi apa yang
kamu lakukan? Memilih menuruti dirimu yang tak pernah berhenti menginginkan
kepuasan, kenikmatan. Jika “Tuhan memilih menghilang” dari dirimu, itu adalah
hal wajar. Kamu sendiri tidak mencoba untuk mengganggam “jari-Nya” untuk tetap
berada dalam dirimu. Tuhan tak ingin “diduakan” dengan kehinaan. Dan apa yang
kamu lakukan pada masa lalu adalah kehinaan yang memaksa “Tuhan angkat kaki”.
Ah, tentu
wajar pula jika kamu sekarang merasa kecewa. Pasti! Pelajaran berharga yang tak
perlu kamu pikir, tapi yakinkan benar dalam dirimu, “Kehidupan tanpa melibatkan
Tuhan akan melahirkan kekecewaan”. Sudah terlalu banyak bukti, dan kamu tak
bisa mengelak, kamu sendiri sudah menjadi saksi dan merasakan sendiri bagaimana
keadaan tanpa Tuhan telah membuatmu tak berdaya.
Perempuan,
benda, harta, jiwa, akal, apa yang dibanggakan? Ia tak akan menjadi apapun
kecuali kekecewaan jika Tuhan tidak kamu ajak “mengurusnya”. Jika kamu sudah
tak memberi ruang pada Tuhan untuk ikut andil, pastikan saja dirimu mulai saat
ini bahwa apa yang kamu lakukan adalah kesia-siaan belaka. Kemungkinan
terfatalnya, masa depanmu akan menjadi buram.
Jangan pernah
sekali-kali mencoba menjadi musuh Allah jalla-jallaluh. Ia adalah
penguasa segala hal, bahkan juga atas dirimu. Kamu akan mengatakan, aku tak
mungkin memusuhi Tuhan. Tapi bagaimana dengan sikap yang selama ini kita
tunjukkan? Sudahkah tidak “menyakiti perasaan-Nya”, melakukan yang tidak Tuhan
sukai?
Scream,
satu hal yang sangat patut kamu bahagiakan dari gelapnya masa lalu adalah pelajaran,
sebuah pengalaman untuk melangkah esok hari. Tapi jangan pernah mengira bahwa
tak ada rasa perih sebab pernah melumuri diri dengan noda. Kamu pasti
merasakannya, ia seperti luka goresan pedang di wajahmu yang selalu berbekas.
Aku akan
bicara seolah-olah kamu adalah aku, scream. Maaf. Ini akan memudahkanku
mengurainya.
Masih
sangat jelas teringat tentang perempuan kemarin yang berkhianat kepadamu. Satu-satunya
perempuan yang kamu pilih untuk kamu cintai selamanya. Kamu berharap hanya
sekali jatuh cinta, dan berjalan dengan baik.
Ya, awalnya
memang baik. Ia bisa menerimamu sebagai seorang laki-laki yang mencintainya. Kamu
berharap saat itu, hal tersebut sebagai tanda baik untuk melangkah menuju arah
yang lebih serius. Tapi nyatanya, Tuhan berkendak lain. Ia mungkin memilih
laki-laki lain sebagai pendamping hidupnya, meski sampai sekarang belum
menikah. Dan meskipun pula sudah terjadi apa yang terjadi.
Tapi dari
situ, kamu mulai sadar benar bahwa apa yang kamu inginkan bukanlah hakim untuk
takdir masa depan. Dan mulai sadar pula, ternyata kamu tidak sama sekali
mengajak Tuhan menjaga hubungan kalian. Ah, tapi akhirnya kamu sadar kan?
Kedekatan dengan Tuhan jauh lebih nikmat dari apapun. Termasuk dengan perempuan
yang dulu kamu pilih untuk benar-benar kamu cintai. Dan hubungan yang tidak
berdasarkan ketentuan Tuhan tentu menjadi boomerang untuk cinta kalian. Selalu
akan ada hal-hal buruk yang terjadi ketika pilihanmu adalah ketidakbaikan.
“Maka, sebuah
kehidupan tanpa Tuhan tidak akan memberikan sebuah kebaikan apapun. Di Akhirat,
atau bahkan mungkin dunia pun sudah menjadi pedang mematikan untuk kehidupanmu.”
Zaidan Musthofa Alawi
Daleeeeeeeeem. Iya terkadang manusia lupa, mereka ngerasa ga musuhin Tuhan tapi kadang tanpa sadar mereka ngelakuin tindakan atau hal hal yang dibenci Tuhan. Dari yg terkecil sampe yg besar.
BalasHapusNice post brooo .
goks...!!! dalem banget tulisannya, pesannya tersampaikan! nice post !!
BalasHapusIya gue juga gak bisa ngebayangin gimana seseorang bisa hidup tanpa Tuhan, semua orang berTuhan bahkan atheis sekalipun sebenarnya mereka berTuhankan akalnya. *tsahh
BalasHapusDaritadi baca ini artikel akunya manggut-manggut aja kak, keren banget dan memang semua yang ditulis disini benar bangett. Keren kak :)) Artinya dalemmmmm banget deh :)
BalasHapusMemang benar kita nggak bisa hidup tanpa Tuhan, maka dari itu apapun yang kita lakukan selalu serahkan semuanya sama Tuhan :))
Kerennnnnnnnnnnnnnnnnn, luluh ni hati dibuatnya. Terima kasih sudah saling mengingatkan.
BalasHapusngebaca tulisan ini serasa ditampar. kadang memang manusia sering lupa, sibuk mengejar dunia tp lupa akan akhirat. lupa akan Tuhan-Nya. padahal jika apa yg kita lakukan dgn menyertakan Tuhan, pasti semuanya akan terasa mudah. akan terasa gampang.
BalasHapustrimakasih udh mengingatkan lewat tulisan ini bahwa kita nobody tanpa-Nya. kita bukan siapa2. kita hanya sebutir debu yang jika Tuhan menghilang, habislah kita
Tulisannya menusuk gue banget.. siip dah
BalasHapus