Semoga limpahan rahmat
senantiasa tercurah untukmu, mak. Aku mencintaimu, merindukanmu.
Maaf tak bisa menghubungimu, mak. Anakmu dalam perantauan mencari jalan
kehidupan masa depan tanpa handphone. Maaf, mak. Aku bisa internet dan
menggunakan laptop karena aku mendesain buku. Tapi engkau tak bisa internet, Mak.
Dan memang lebih baik demikian. Banyak
konten-konten tak baik yang akan menyakitkan penglihatanmu.
Mungkin kehidupan dalam perantauan tak bisa dikatakan mudah. Dan memang itu
pula yang engkau inginkan dariku dengan jalan ini, agar menjadi lebih baik.
Bukankah itu yang engkau inginkan, Mak? Meski aku tak tau, sekarang aku sudah
menjadi lebih baik atau belum. Atau bahkan semakin tak jelas. Dan seberapapun
beratnya, selagi itu inginmu. Akan aku coba hadapi dengan segenap kekuatanku.
Itulah yang membuatku takut pulang. Aku takut mengecewakan impianmu yang
luhur. Aku tak ingin ada setetes saja air mata yang keluar dari bening matamu
yang teduh itu. Jangan ada yang menetes untuk ketidakbecusanku. Aku ingin
membuatmu bahagia. Aku ingin senyum itu tersungging saat aku pulang. Senyum
bahagia, senyum bangga.
Tapi apakah kini aku sudah memiliki tiket untuk membuatmu tersenyum?
Aku merindukan mencium kakimu, dan kaki bapak. Aroma surga yang bisa aku
nikmati dalam hidup. Aroma keridhoan kalian. Aku ingin mencium kakimu dengan
helaan nafas ternikmat. Mungkin yang tak terakhir.
Mak, bukan karena tak punya uang atau tak bisa makan yang membuatmu kadang
merasa tersudut, sepi. Itu bukan apa-apa, dan menurutku biasa saja. Tapi
kerinduan padamu tak bisa dilawan dengan memejamkan mata atau menyusuri jalanan
kota. Kadangkala jawaban yang meluncur adalah air mata. Aku jadi cengeng karena
merindukanmu.
Aku tak tau harus mengatakan kepada siapa keluh kesah kehidupanku. benar,
Mak. Tentu saja pada Tuhan. Sepertinya aku mengidap sebuah penyakit, mak. Aku
tak tau apa. Dan semoga tak parah. Sudah aku coba untuk tidak sama sekali
terperdaya oleh maraknya berita penyakit ganas. Dan sudah aku yakinkan pada
diri sendiri bahwa sakit ini adalah sakit biasa. Seperti halnya pilek, atau
panu.
Tapi bukankah kematian tidak datang hanya dengan sakit? Mungkin ia datang
karena kaget dengan gigitan nyamuk. Bukankah bisa jadi, Mak? Dan kesiapan untuk
menuju kesana sebaiknya aku persiapkan sedemikian rupa. Bukan karena aku tau
akan mati sekarang, nanti, besok, bulan depan, tahun depan, atau satu abad lagi
sekalipun. Bukan karena itu. Tapi karena persiapan kematian sejatinya adalah
kewajiban manusia dalam mengarungi kehidupan. Setiap langkah adalah persiapan
kematian. Setiap detik adalah persiapan perjumpaan dengan Tuhan.
Apa yang aku katakan pada-Nya kelak, Mak? Apa yang harus aku jawabkan jika
aku ditanya sesuatu?
Untunglah engkau mengenalkanku pada Tuhan sejak aku belum bisa merangkak.
Suara bacaan Al-Qur’an dan Sholatmu adalah pemandangan harian yang
menentramkan. Setidaknya ketika aku paham seperti sekarang. Setidakanya pula
aku menjadi tau, siapakah Tuhan dalam kehidupanku.
Mak, sudah selayaknya untaian maaf dan terima kasih teruai untukmu. Tapi
itu tidak sama sekali menjadikan segalanya menjadi impas. Aku tau engkau tak
akan membaca ini, karena engkau tidak menggunakan internet. Juga mungkin tidak
untuk saudaraku, anakmu yang lain. Mereka sangat tekun mendalami ilmu. Di
hadapan mereka adalah kitab berkertas kuning dengan huruf arab tanpa harakat. Dan
mereka mampu membacanya. Sebuah hal yang tidak aku bisa sampai sekarang. Dan
mungkin itu pula pertimbanganmu untuk merantaukan anakmu ini. Setidaknya untuk
tau sedikit saja wajah dunia, wajah kehidupan luar.
Masih banyak kata yang akan aku sampaikan padamu, Mak. Tapi adzan Isya’
sudah berkumandang. Engkau mengajarkanku untuk tidak menunda berangkat ketika
adzan berkumandang. Senantiasa mengingatkan untuk bergegas.
“Cepatlah, Nak. Sudah waktu waktunya ritual menghadap Tuhan.”
Selembut itulah, Mak. Aku rindu. Bukankah sudah sepantasnya?
Salam
Zaidan Musthofa Alawi
Nyesssssssssss. Itulah kata pertama yang bisa Pangeran ucapkan di tulisan ini.
BalasHapusAh. Gue ngerasa lemah, kalo bahas orang tua. :'(
Gue jadi makin kangen sama orang tua gue. Apapun itu, kematian, waktu, kesempatan. apapun itu, semuanya harus tetap berjalan.
Mari kita banggakan orang tua kita dengan tiket-tiket yang membuatnya melepas senyum simpul kebahagiaan. Tangis bahagia.
:'(
Gue sedih, bro.
Huftt.. sebagai anak mami aku jadi teringat dengan emakku..
BalasHapusSeenggaknya sekarang aku masih beruntung, masih tinggal bersama emak. Masih bisa mengungkapkan sayang secara langsung setiap hari..
Oh, iya emak saya juga nggak bisa main internet :D
Lagi sakit ya.. cepat sembuh ya.. biar bisa pulang terus ketemu orang tua
BalasHapusKadang kalo deket gitu ada aja masalah sama orang tua tapi kalo jauh kangennya minta ampun
Salam kenal ya..
waduuuh dalem banget. *boro-boro nyamperin emak gue, langsung cium kakinya*
BalasHapusbegini yaa nasib anak perantauan yang jauh dari orang tua. bersyukurlah kalian termasuk gue yang masih bisa setiap hari bertegur sapa dan masih bisa merasakan kasih sayang dari Ibu. lo yang sabar aja yaa, semoga lo nanti pulang dengan membawa kesuksesan yang luar biasa, sehingga Ibu lo bisa bangga sama lo.
Sulit buat berkomentar. Gak bisa bayangin deh kalo gua juga jadi anak rantau. Makasih bang telah membuat tulisan yang ngajarin gua buat berbakti kepada orang tua :')
BalasHapusWaaaah, deep banget. walaupun aku belum pernah merantau, tapi dari tulisannya keliatan banget dalemnya.
BalasHapuscepat sembuh ya :( banggain orang tuamu bikin bangga karena pilihab beliau sudah tepat merantaukan kamu..
Kalau emak kamu nggak pake internet, pulanglah...temui emak dan belajar baca Al Qura ..semua orng tak pernah tau dimanaujung nafas mereeka, tapi semua orng menuju mati itu pasti...berdoa dan berusaha...walau tak harus bisa baca kitab kuningm setidaknya bacalah satu ayat setiap hari..dan cari tau penyakitmu semoga Alloh sll melimpahkan kesehatan untukmu..aku juga perantau dan aku juga kangen Ibukuuuuuu....
BalasHapusBROKER TERPERCAYA
BalasHapusTRADING ONLINE INDONESIA
PILIHAN TRADER #1
- Tanpa Komisi dan Bebas Biaya Admin.
- Sistem Edukasi Professional
- Trading di peralatan apa pun
- Ada banyak alat analisis
- Sistem penarikan yang mudah dan dipercaya
- Transaksi Deposit dan Withdrawal TERCEPAT
Yukk!!! Segera bergabung di Hashtag Option trading lebih mudah dan rasakan pengalaman trading yang light.
Nikmati payout hingga 80% dan Bonus Depo pertama 10%** T&C Applied dengan minimal depo 50.000,- bebas biaya admin
Proses deposit via transfer bank lokal yang cepat dan withdrawal dengan metode yang sama
Anda juga dapat bonus Referral 1% dari profit investasi tanpa turnover......
Kunjungi website kami di www.hashtagoption.com Rasakan pengalaman trading yang luar biasa!!!