Selasa, Desember 23, 2014

Surat Untuk Emak, Seuntai Maaf

BY Unknown IN 8 comments


Semoga limpahan rahmat senantiasa tercurah untukmu, mak. Aku mencintaimu, merindukanmu.

Maaf tak bisa menghubungimu, mak. Anakmu dalam perantauan mencari jalan kehidupan masa depan tanpa handphone. Maaf, mak. Aku bisa internet dan menggunakan laptop karena aku mendesain buku. Tapi engkau tak bisa internet, Mak. Dan  memang lebih baik demikian. Banyak konten-konten tak baik yang akan menyakitkan penglihatanmu.
Google
Mungkin kehidupan dalam perantauan tak bisa dikatakan mudah. Dan memang itu pula yang engkau inginkan dariku dengan jalan ini, agar menjadi lebih baik. Bukankah itu yang engkau inginkan, Mak? Meski aku tak tau, sekarang aku sudah menjadi lebih baik atau belum. Atau bahkan semakin tak jelas. Dan seberapapun beratnya, selagi itu inginmu. Akan aku coba hadapi dengan segenap kekuatanku.
Itulah yang membuatku takut pulang. Aku takut mengecewakan impianmu yang luhur. Aku tak ingin ada setetes saja air mata yang keluar dari bening matamu yang teduh itu. Jangan ada yang menetes untuk ketidakbecusanku. Aku ingin membuatmu bahagia. Aku ingin senyum itu tersungging saat aku pulang. Senyum bahagia, senyum bangga.
Tapi apakah kini aku sudah memiliki tiket untuk membuatmu tersenyum?
Aku merindukan mencium kakimu, dan kaki bapak. Aroma surga yang bisa aku nikmati dalam hidup. Aroma keridhoan kalian. Aku ingin mencium kakimu dengan helaan nafas ternikmat. Mungkin yang tak terakhir.
Mak, bukan karena tak punya uang atau tak bisa makan yang membuatmu kadang merasa tersudut, sepi. Itu bukan apa-apa, dan menurutku biasa saja. Tapi kerinduan padamu tak bisa dilawan dengan memejamkan mata atau menyusuri jalanan kota. Kadangkala jawaban yang meluncur adalah air mata. Aku jadi cengeng karena merindukanmu.
Aku tak tau harus mengatakan kepada siapa keluh kesah kehidupanku. benar, Mak. Tentu saja pada Tuhan. Sepertinya aku mengidap sebuah penyakit, mak. Aku tak tau apa. Dan semoga tak parah. Sudah aku coba untuk tidak sama sekali terperdaya oleh maraknya berita penyakit ganas. Dan sudah aku yakinkan pada diri sendiri bahwa sakit ini adalah sakit biasa. Seperti halnya pilek, atau panu.
Tapi bukankah kematian tidak datang hanya dengan sakit? Mungkin ia datang karena kaget dengan gigitan nyamuk. Bukankah bisa jadi, Mak? Dan kesiapan untuk menuju kesana sebaiknya aku persiapkan sedemikian rupa. Bukan karena aku tau akan mati sekarang, nanti, besok, bulan depan, tahun depan, atau satu abad lagi sekalipun. Bukan karena itu. Tapi karena persiapan kematian sejatinya adalah kewajiban manusia dalam mengarungi kehidupan. Setiap langkah adalah persiapan kematian. Setiap detik adalah persiapan perjumpaan dengan Tuhan.
Apa yang aku katakan pada-Nya kelak, Mak? Apa yang harus aku jawabkan jika aku ditanya sesuatu?
Untunglah engkau mengenalkanku pada Tuhan sejak aku belum bisa merangkak. Suara bacaan Al-Qur’an dan Sholatmu adalah pemandangan harian yang menentramkan. Setidaknya ketika aku paham seperti sekarang. Setidakanya pula aku menjadi tau, siapakah Tuhan dalam kehidupanku.
Mak, sudah selayaknya untaian maaf dan terima kasih teruai untukmu. Tapi itu tidak sama sekali menjadikan segalanya menjadi impas. Aku tau engkau tak akan membaca ini, karena engkau tidak menggunakan internet. Juga mungkin tidak untuk saudaraku, anakmu yang lain. Mereka sangat tekun mendalami ilmu. Di hadapan mereka adalah kitab berkertas kuning dengan huruf arab tanpa harakat. Dan mereka mampu membacanya. Sebuah hal yang tidak aku bisa sampai sekarang. Dan mungkin itu pula pertimbanganmu untuk merantaukan anakmu ini. Setidaknya untuk tau sedikit saja wajah dunia, wajah kehidupan luar.
Masih banyak kata yang akan aku sampaikan padamu, Mak. Tapi adzan Isya’ sudah berkumandang. Engkau mengajarkanku untuk tidak menunda berangkat ketika adzan berkumandang. Senantiasa mengingatkan untuk bergegas.
“Cepatlah, Nak. Sudah waktu waktunya ritual menghadap Tuhan.”
Selembut itulah, Mak. Aku rindu. Bukankah sudah sepantasnya?

Salam

Zaidan Musthofa Alawi

8 komentar:

  1. Nyesssssssssss. Itulah kata pertama yang bisa Pangeran ucapkan di tulisan ini.

    Ah. Gue ngerasa lemah, kalo bahas orang tua. :'(

    Gue jadi makin kangen sama orang tua gue. Apapun itu, kematian, waktu, kesempatan. apapun itu, semuanya harus tetap berjalan.

    Mari kita banggakan orang tua kita dengan tiket-tiket yang membuatnya melepas senyum simpul kebahagiaan. Tangis bahagia.

    :'(

    Gue sedih, bro.

    BalasHapus
  2. Huftt.. sebagai anak mami aku jadi teringat dengan emakku..
    Seenggaknya sekarang aku masih beruntung, masih tinggal bersama emak. Masih bisa mengungkapkan sayang secara langsung setiap hari..
    Oh, iya emak saya juga nggak bisa main internet :D

    BalasHapus
  3. Lagi sakit ya.. cepat sembuh ya.. biar bisa pulang terus ketemu orang tua

    Kadang kalo deket gitu ada aja masalah sama orang tua tapi kalo jauh kangennya minta ampun

    Salam kenal ya..

    BalasHapus
  4. waduuuh dalem banget. *boro-boro nyamperin emak gue, langsung cium kakinya*

    begini yaa nasib anak perantauan yang jauh dari orang tua. bersyukurlah kalian termasuk gue yang masih bisa setiap hari bertegur sapa dan masih bisa merasakan kasih sayang dari Ibu. lo yang sabar aja yaa, semoga lo nanti pulang dengan membawa kesuksesan yang luar biasa, sehingga Ibu lo bisa bangga sama lo.

    BalasHapus
  5. Sulit buat berkomentar. Gak bisa bayangin deh kalo gua juga jadi anak rantau. Makasih bang telah membuat tulisan yang ngajarin gua buat berbakti kepada orang tua :')

    BalasHapus
  6. Waaaah, deep banget. walaupun aku belum pernah merantau, tapi dari tulisannya keliatan banget dalemnya.

    cepat sembuh ya :( banggain orang tuamu bikin bangga karena pilihab beliau sudah tepat merantaukan kamu..

    BalasHapus
  7. Kalau emak kamu nggak pake internet, pulanglah...temui emak dan belajar baca Al Qura ..semua orng tak pernah tau dimanaujung nafas mereeka, tapi semua orng menuju mati itu pasti...berdoa dan berusaha...walau tak harus bisa baca kitab kuningm setidaknya bacalah satu ayat setiap hari..dan cari tau penyakitmu semoga Alloh sll melimpahkan kesehatan untukmu..aku juga perantau dan aku juga kangen Ibukuuuuuu....

    BalasHapus
  8. BROKER TERPERCAYA
    TRADING ONLINE INDONESIA
    PILIHAN TRADER #1
    - Tanpa Komisi dan Bebas Biaya Admin.
    - Sistem Edukasi Professional
    - Trading di peralatan apa pun
    - Ada banyak alat analisis
    - Sistem penarikan yang mudah dan dipercaya
    - Transaksi Deposit dan Withdrawal TERCEPAT
    Yukk!!! Segera bergabung di Hashtag Option trading lebih mudah dan rasakan pengalaman trading yang light.
    Nikmati payout hingga 80% dan Bonus Depo pertama 10%** T&C Applied dengan minimal depo 50.000,- bebas biaya admin
    Proses deposit via transfer bank lokal yang cepat dan withdrawal dengan metode yang sama
    Anda juga dapat bonus Referral 1% dari profit investasi tanpa turnover......

    Kunjungi website kami di www.hashtagoption.com Rasakan pengalaman trading yang luar biasa!!!

    BalasHapus